(BUKAN) KEKASIHKU

(BUKAN) KEKASIHKU

Penulis : Agustin Handayani

Di publish tanggal 2017-09-15 20:05:05

 

Semua tetap sama. Aku masih berdiri di depan sebuah kafe yang bercat cokelat dengan beberapa motif atau ilustrasi yang seakan-akan mengingatkan kita pada sebuah rumah kayu. Rumah kayu yang masih tercium aroma rotannya yang khas. Dengan kesan rindang yang tak dapat terpisahkan.

Kira-kira sudah berapa lama aku menunggunya? Ya, benar. Sudah sekitar tiga jam aku berdiri dan tak ada niat untuk melangkah pergi dari tempat ini. Lelaki yang bernama Gabriel itu sudah berjanji akan menjemputku setelah pulang les. Namun ini sudah sangat lama sejak aku menunggu, bukan?

Teriknya matahari masih sangat menyengat, embusan angin seakan belum terasa membelai kulit. Tepat di atas kepala sang surya berada dan aku masih tak ingin melangkah meski sesenti saja. Aku harus tetap menunggu sampai Gabriel datang. Harus. Namun tiba-tiba aku ingin sekali dunia menelanku saat ini juga. Bukan, bukan lagi menelan, tapi lenyapkan aku saat ini juga!

Kakiku masih saja berdiri tegak meski sudah merasakan kakiku hampir luruh ke tanah. Aku di sini berjuang untuk bertahan dan di depan mataku Gabriel ada di sana. Tidak lagi sendiri. Ia bersama dengan seorang wanita berperawakan tinggi semampai, tungkai kakinya bahkan sangat panjang seperti rambutnya yang lurus. Wajah gadis itu sangat cantik dan senyumnya manis meski hanya sekali lihat. Aku benar-benar merasa kecil dan tersisihkan.

"Hai, Nay!" sapa Gabriel di kala malam tepat tiga hari setelah kejadian itu.

Kejadian yang membuatku terlihat bodoh saat Gabriel melupakan janjinya dan malah bersama wanita lain.

"Hmm, ada apa?" tanyaku yang masih fokus pada naskah-naskah yang harus aku selesaikan.

Namun percayalah, meski mata dan tanganku bekerja, tapi fokusku tetap pada Gabriel, lelaki pertamaku. Lelaki yang juga mengajarkanku untuk diam, diam dan berharap.

"Tadi kamu sama siapa ke toko buku?" tanya Gabriel menelisik raut wajahku yang langsung gelagapan.

"Hmm, tadi aku sama Rio. Kebetulan ia mau beli buku juga," jelasku tanpa melihatnya.

 

"Kenapa harus sama dia?"

Suaranya terdengar beda. Tidak ada lagi kelembutan di sana. Suara itu dingin dan kaku. Ia mulai lagi.

"Nggak sengaja, Gab," ucapku malas dengan sikapnya yang ini.

Sikapnya seakan menunjukkan posisiku yang fana. Selalu begini, saat aku tengah dekat dengan orang lain, Gabriel seakan mengklaim bahwa aku adalah miliknya dan tak boleh dekat dengan orang lain.

"Jangan dekat sama dia lagi!" titah Gabriel tegas yang kujawab dengan anggukan malas saja.

Sudah terlalu sering diberi harapan lalu dihempaskan begitu saja.

Itu adalah kata-katanya seminggu yang lalu saat ia melarangku dekat dengan lelaki lain. Lalu sekarang? Ia sedang berangkulan mesra dengan wanita yang aku lihat beberapa hari lalu di depan kafe.

"Gab ...," ujarku lirih yang entah mengapa cukup terdengar hingga ia menoleh dan melihatku yang masih berdiri.

"Nay! Sini!" suruhnya yang membuatku tetap berdiri tanpa niat beranjak sejengkal pun.

Hingga Gabriel dan wanita itu memilih melangkah menghampiriku yang masih termenung melihat kedekatan yang mereka tampilkan. Tangan mereka saling menggenggam, meneriakkan kebahagian pada dunia.

"Nay, kenalin ini Cinta, pacar baru aku," ucap Gabriel dengan tenang ditambah senyum senang yang menghiasi wajah blasterannya.

Pacar baru?

Lagi.

Aku tertawa miris dengan perkenalan yang Gabriel ucapkan dengan tenangnya. Padahal aku yang mendengarnya sudah dapat meremukkan hatiku.

"Selamat, ya!" ucapku dengan senyum dipaksakan.

Setelahnya aku segera melangkah menjauhi mereka tanpa pamit.

Hampir saja air mata ini menetes, tapi sekuat tenaga kutahan. Gabriel, lelaki yang sedari kecil selalu melindungiku, bersama menjalani hari layaknya sepasang kekasih yang mampu membuat iri semuanya. Namun, mereka tak tahu. Aku dan Gabriel hanya sebatas sahabat, bukan seperti kabar burung yang terdengar.

 

Tiba-tiba, bunyi benda pipih yang kupegang terdengar. Terpampang nama Gabriel di sana, dan segera saja kubaca.

"Nay, perjanjiannya selesai. Sekarang aku sudah menemukan pelabuhanku dan kita tidak usah menjadi kekasih bohongan lagi. Terima kasih sudah menjadi my fake girlfriend. Semoga kebahagiaanmu segera datang."

Seketika, air mata yang kutahan, turun juga. Ini tidak adil!

Semuanya sudah berakhir padahal aku belum merasa memulai. Padahal aku belum bahagia. Jika lelaki yang aku cintai telah mendapatkan kebahagiaannya, kapan aku bisa mendapatkan kebahagiaanku?

 


Agustin Handayani

Facebook: Agustin Handayani

Whatsapp: 082301197748