CINDERELLA DAN UPIK ABU

CINDERELLA DAN UPIK ABU

Penulis : Shanti Agustiani

Di publish tanggal 2017-09-15 18:35:10

 

"Oh Sayang … aku kini telah berubah, sesuai gambaran ideal tentang seorang wanita impian, akulah seorang putri. Aku telah mengubah baju dan celemek compang-campingku menjadi sebuah gaun biru dari gorden ibu tiri yang aku curi semalam. Aku telah membubuhkan make up tebal ke wajahku dengan sapuan delima dan mawar merah. Bukankah aku telah sempurna untukmu?”

Cinderella yang tadinya Upik Abu itu bertanya kepada sang pangeran yang tampak bermuram durja dengan menyilangkan kakinya dan bersandar pada dinding balkon. Ia tak tahu harus menjawab apa.

"Mmmh … sesungguhnya aku hanya mencintai Upik Abu. Aku memang terpana pada kecantikan fisikmu saat ini, tetapi kecantikan itu serupa panggung gemerlap yang akan habis pada pukul dua belas malam. Aku telah mengerti akhir ceritanya. Namun aku menginginkan keaslian itu dari awal hingga proses berjalan. Aku ingin merangkul pinggangmu yang dihiasi celemek kotor, sesungguhnya itu menandakan kelembutan hatimu yang penuh pengorbanan. Aku … sungguh tak menyukai kepalsuan!"

Akhirnya pangeran itu menyahut setelah sekian lama terdiam menimbang-nimbang ucapan agar tak menyakiti hati Cinderella.

"Baiklah, jika itu maumu, aku akan mengenakan celemek compang-campingku kembali dan menghapus make up tebal sialan ini!” ujar Cinderella mulai mengusap lipstik pada bibirnya dan merusak sanggul bertakhta berlian palsu.

Ia masuk ke kamar kecil untuk membuang semua balutan gorden biru dan mengenakan kembali pakaian compang-campingnya. Ia kembali menjadi Upik Abu dan menemui sang pangeran yang menunggunya dengan pandangan kosong menatap pada gugusan bintang.

"Beginikah yang kau mau, wahai Pangeran?” tanya Upik Abu.

“Begitu lebih baik, setidaknya napasmu tidak sesak karena ikatan pada gaun tadi terlalu mencekik dadamu dan make up tebal pada wajahmu tadi menghambat pori-porimu untuk bernapas lega. Nah, duduklah di sini bersamaku. Aku tadi melihat pada gugusan bintang itu dan melihat masa laluku. Apa kau mau dengar tentang pengakuanku?” tanya sang pangeran sambil mempersilakan Upik Abu untuk duduk pada anak tangga di sampingnya.

Upik Abu menurut duduk di samping sang pangeran. Dari sana wajahnya terkena terpaan sinar rembulan sehingga tampak bersinar keemasan. Sang pangeran berbisik, "Wajah aslimu tanpa make up jauh lebih cantik dan bersinar, meski mata dengan lengkung duka itu masih tampak jelas kulihat."

"Benarkah? Apa aku tampak menyedihkan?” tanya Upik Abu.

"Jika kau bersedih dan aku mengetahuinya, aku akan selalu menjadi penghibur hatimu, tetapi make up yang tebal akan membuat matamu terasa asing bagiku. Jika aku kurang lucu sebagai penghibur akan kupanggilkan badut istana untuk menghibur hatimu." Pangeran tersenyum tipis membuat hati Upik Abu tersentuh lalu tertawa terbahak-bahak.

“Aku tak butuh badut karena dengan segala usahamu pasti bisa membuatku tertawa terpingkal-pingkal meski kau hanya sedang menjentikkan kuku ke lubang hidungmu!”

Upik Abu mencoba meyakinkan sang pangeran dan ia mulai bergairah dengan segala kejujurannya.

"Ngomong-ngomong, rahasia masa lalu apa yang akan kauceritakan, wahai Pangeran?"

"Begini … percayakah kamu jika aku bilang bahwa aku bukan pangeran yang sebenarnya?"

"Apa?!"

Upik Abu terbelalak. Ia berdiri dan berjalan mengitari sang pangeran, memperhatikan pangeran itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Mana mungkin aku percaya? Kau sangat tampan dan dari dalam matamu tak tampak lengkung duka seperti milikku."

Pangeran itu mengangguk dan memulai ceritanya, “Dulu … aku seorang pengawal yang menemani pangeran berburu di hutan. Kami kemalaman dan melihat gugusan bintang itu untuk mencari arah jalan pulang. Namun di tengah jalan kami dirampok oleh sekawanan begal, pangeran terbunuh dan aku sendiri terluka parah.”

Upik Abu terhenyak menyimak kisah itu lalu sang pangeran melanjutkan ceritanya, “beruntung kami ditemukan seorang tabib ahli bedah yang tinggal tak jauh dari tempat perampokan itu terjadi. Ia mencoba menolong pangeran tapi ia sudah tak bernapas dan terpaksa harus dikuburkan. Sedangkan aku masih bisa diselamatkan. Anehnya tabib itu mempunyai ide gila untuk memakaikan wajah sang pangeran pada wajahku yang rusak oleh tombak.”

“Benarkah cerita itu?” tanya Upik Abu setengah tak percaya.

“Benar!”

Pangeran mengangguk dalam-dalam.

"Sang raja mengenaliku sebagai putra mahkotanya dan ia bersyukur bahwa putra satu-satunya tidak tewas dalam peristiwa perampokan di hutan.

“Tapi mengapa kau tak berterus-terang pada sang raja?”

“Beliau sudah sangat renta, apa kau tak melihatnya tadi di ruang dansa istana? Raja terduduk lemah di singgasana dengan sangat mengantuk dan kelelahan menunggu pesta dansa usai. Ia punya penyakit jantung yang bisa kumat seketika jika aku mengatakan hal yang sebenarnya!”

Upik Abu kembali duduk di samping pangeran. Ia merebahkan kepalanya pada bahu sang pangeran yang rupanya pengawal istana itu. Upik Abu bergumam, "Kadang-kadang kehidupan memerlukan kebohongan."

"Namun kebohongan itu tetap saja menyiksa batin!” tukas sang pangeran, "makanya jika bisa janganlah bangga dengan kepalsuan, jangan berbohong hanya demi penampilan, jangan cita-citakan istana megah, kendaraan kereta kuda, dan sepatu kaca. Itu semua tidak abadi. Tujuan kita hanyalah bahagia. Kebahagiaan kadang-kadang hanya memerlukan hal-hal yang sederhana, dan kebahagiaan hakiki bersumber dari kejujuran dan keaslian.”

“Kau sungguh bijak. Kukira pangeran yang biasa hidup mewah sejak kecil tak 'kan sanggup memiliki filosofi hidup sepertimu. Aku percaya bahwa kau bukan pangeran. Dan aku makin cinta!”

Mereka berdua bergandengan tangan menuju altar pelaminan, tanpa kuda dan sepatu kaca. Sewaktu-waktu mereka akan meninggalkan istana jika sang raja telah tiada. Harta dan takhta hanyalah kendaraan, bukan tujuan yang sebenarnya.

 


Shanti Agustiani

Shanti Agustiani adalah nama pena dari perempuan bernama Nurlia Shanti Agustin yang lahir di Balikpapan dan kemudian merantau ke Yogyakarta dan Jakarta untuk menyelesaikan kuliah S1 dan S2-nya. Kini ia bekerja sebagai Konselor, Pembina PIK R dan Pengasuh bulletin yang diterbitkan di sekolah tempat ia bekerja yakni di Madraasah Aliyah Negeri 2 Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.