JEJAK HENTI KITA

JEJAK HENTI KITA

Penulis : Rhet Imanuel

Di publish tanggal 2017-08-28 14:00:46

 

Ya, betapapun langkah begitu jauh berjalan menyusuri hutan, lembah, juga ladang-ladang bersama nyanyian surga, sedapatkah rindu itu tergenggam? Adakah awan-awan menjadi tiang, tempat perteduhan nyaman? Ialah kosong, meskilah ia berkuasa atas mimpi-mimpi lagi. Sementara, nyanyian surga mengiringi tanpa bayang, dapatkah kita temukan rerimbunan di antaranya semak belukar? Ataukah membiasnya hati tak lagi imbang oleh sosok imajinasi?

Pada sebuah cinta, maha karya, juga kesenjangan panorama yang selalu ada menggantung di ujung senja, engkaulah rumah sebagai tempat terindah; untukku.

Perlukah dan haruskah kulukiskan sketsa-sketsa perjalanan itu, sementara hadirmu adalah serupa angsana yang tidaklah diraba, tidaklah dieja mata, tidaklah diperuntukkan sebagai pelengkap halaman-halaman villa. Namun, kutemukan engkau sebagai pelengkap di seraut wajahku sebagai senyuman untuk melengkapi rumah kecil kita. Adalah hidup sebagai kesederhanaannya cinta, meski tak lama waktu menghabiskan sisa-sisa usia, bukankah kita telah merimbunkan sisi-sisi jalan pada dahaganya dunia pena; di bawah teduhnya kehidupan sastra kita dalam hangatnya pelukan.

 

 


Rhet Imanuel

Rhet Imanuel, lelaki penyuka hujan. Ia memulai debutnya menulis di sebuah layar kecil ponsel. Dua bukunya telah lahir yaitu Lelaki di Bawah Hujan dan Sajak-Sajak Lilin.