Kedai Cangkir Kopi dan Dua Sisi
Kedai Cangkir Kopi dan Dua Sisi

Kedai Cangkir Kopi dan Dua Sisi

Penulis : a . d . m . i . n

Di publish tanggal 2017-08-28 20:25:27

 

Kedai Cangkir Kopi di Kota Pontianak  menjadi tempat yang dipilih penulis Kalbar, E. Widiantoro dan Shella Rimang untuk meluncurkan buku antologi cerpen mereka berjudul Dua Sisi yang diterbitkan oleh Intishar Publishing. Hadir dalam acara malam itu (20/08) para penikmat sastra dan pegiat literasi Kalbar di Kota Pontianak. Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB diawali dengan pembacaan cerpen Diorama karya Shella Rimang satu di antara enam cerpen yang dimuat dalam antologi cerpen Dua Sisi oleh Angel Prapodio.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan ulasan buku Dua Sisi yang disampaikan Dedy Ari Asfar, peneliti dari Balai Bahasa Kalimantan Barat. Dalam ulasannya, Dedy Ari Asfar menyebut Dua Sisi memang benar-benar buku yang memuat karya dua penulis dengan latar  yang berbeda dari sisi usia, genre kepenulisan, dan pengalaman. Shella Rimang,  dari Kepala Gurung Kabupaten Kapuas Hulu dikenal sebagai perempuan yang berbakat, seorang penyair muda yang dijuluki Perempuan Puisi, sesuai judul buku kumpulan puisinya yang  bagus dan sangat memikat bagi pembaca. E. Widiantoro penulis  asal Kota Ketapang, telah berpengalaman menerbitkan karya dalam beberapa antologi cerpen dengan ideologi yang kuat bertumpu pada estetika tauhid.

Dalam buku antologi cerpen Dua Sisi, kedua penulis sama-sama berusaha mengangkat lokalitas sesuai persepsi masing-masing. Dedy Ari Asfar menilai enam cerpen karya Shella Rimang, meski sederhana, cara bertutur dan  bahasa yang dipergunakan sangat mengalir, enak untuk dinikmati dengan akhir cerita yang tak mudah ditebak. Shella Rimang sepertinya secara cerdas mengangkat pengalaman pribadi menjadi sebuah karya fiksi yang menarik. Berbeda dengan E. Widiantoro, menurut Dedy Ari Asfar, enam cerpen dalam Dua Sisi mengingatkannya pada gaya kepenulisan E. Widiantoro di masa awal sebagai penulis tahun '90-an yang pernah ia baca yaitu tanpa ideologi yang kuat, terlalu ringan, menggunakan dialog yang mirip sandiwara radio. Padahal semestinya hal ini tidak dilakukan, apalagi sebagai ajang eksperimen atau coba-coba sehingga karya E. Widiantoro terlihat sangat berbeda dan lemah  jika dibandingkan dengan cerpen-cerpennya yang  termuat di buku antologi cerpen Lelaki Dari Tanjung Nipah dan Kyai Yang Menolak Haji.

Dalam hal lokalitas, Dedy Ari Asfar mengingatkan kedua penulis agar lokalitas tidak hanya menjadi pemanis, tetapi harus menjadi bagian yang utuh dan kuat dalam sebuah cerita. Usai penyampaian ulasan atau bedah buku, acara yang dipandu oleh Varli Pay Sandi itu berlanjut dengan sesi dialog antara peserta dan kedua penulis. Kemudian, diakhiri dengan musikalisasi puisi karya Shella Rimang yang terdapat dalam buku Dua Sisi.

 

 


a . d . m . i . n

“Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha”