TRAGEDI SABTU MALAM

TRAGEDI SABTU MALAM

Penulis : Devi Tasyaroh

Di publish tanggal 2017-09-15 18:50:33

 

Pemandangan yang sangat menjijikan. Cih, bagaimana bisa mereka beradu kata dalam balutan argumen-argumen pedas di hadapan anak bungsunya? Lihatlah! Mereka mengabaikanku yang repot membawa bingkisan besar pasca mengalahkan lawan di lapangan indoor stadion kota. Aku baru menang lomba dan mereka hanya menganggapku angin lalu yang menguap bagai air mendidih. Sungguh, aku kesal! Lontaran cemoohan sangat tidak pantas untuk didengar. Percayalah kata-kataku! Mereka memang aktor terkenal di kancah dunia pertelevisian; ayah bintang film dengan kontrak kerjanya yang bisa membuat aku dan kakak-kakakku geleng kepala karena sulit berkumpul di rumah, ibu pun wanita karier yang sepiawai dengan ayah. Mereka benar-benar memainkan peran di rumah dan membuatku gila.

Hei, bayangkan jika posisi ini hilang dalam sekejap! Mungkin ayah tidak akan menahan ibu pergi, mengingat ia hanya memiliki peran sebagai tukang bakso, dulu. Berhubung ajang pemilihan yang ia semarakkan berbuah manis, maka beginilah cita rasa yang terlahir, tak romantis. Begitu juga ibu, untuk apalagi ia bekerja? Toh harta warisan tak pernah berkurang di matanya. Justru tumpukan rupiah selalu berlipat tiap tahun. Namun, hidup memang adil. Dengan keapatisan yang melekat dalam diri keduanya, membuat aku dan anak-anak mereka yang lain menjauh.

Seharusnya mereka senang dan bangga padaku, karena prestasi gemilang ini hasil berguru dan mengais ilmu. Lain halnya dengan kedua kakakku yang tampak tak acuh dengan karier mereka, selama ayah dan ibu bahagia terperosok dalam profesi mereka, hidup tenang, damai, dan sentosa. Ah, semua anggota keluarga dalam rumah ini sudah terindikasi gangguan jiwa. Lihat saja, aku yang compang-camping pun terlihat sama; gila.

Tunggu! Mengapa mereka saling melempar tatapan mengerikan itu padaku? Ah, keterlaluan! Aku tidak punya urusan dengan mereka. Dan sekarang justru ayah mendekat ke arahku untuk mengambil tas ransel besar di punggungku secara paksa. Sialan, ini terasa sakit di pundak. Apa aku terlihat lebih cantik darimu, Bu? Kau memandangku terlalu berlebihan, aku malu. Sungguh, tak perlu kau bersusah payah mendekat untuk mengucapkan selamat atau sekadar melempar pelukan hangat, aku malu. Namun, ia tetap memangkas jarak tepat di depanku.

Ah, sial!

Ia merebut paksa bingkisan besar hasil jerih payahku. Ternyata, oh ternyata, tanpa kuduga mereka membanting kasar hak milikku secara sukarela. Benar-benar keterlaluan mereka ini! Letupan emosi mulai mendorongku untuk marah. Kepalan tangan ini mengeras tanpa kupinta. Mata membesar dan pernapasan yang makin memberat membuatku merasa siap untuk mengamuk sekarang.

 

"HAAAAAH, KALIAN MENGACAUKAN KESENANGANKU SEKARANG!"

 

Ayah dan ibu terdiam. Bagus! Aku bisa berjalan ke kamar dengan tenang. Lampu tengah yang masih padam terasa makin redup akibat senja yang tak lagi mengkilap. Sentuhan tangan pada saklar merubah keadaan ruangan makin terang. Lekas saja aku bergegas mengambil bingkisan dan tas. Namun, hawa mistis datang pada tanganku yang mulai meremang. Aku membalikkan badan dan menyaksikan ayah memegang pisau. Ini tampak nyata, bukan hanya dalam film horor yang biasa ayah perankan. Ia benar-benar memegang benda tajam itu tanpa raut wajah gundah. Mungkinkah ...?

Oh, ibu, pergi kau dari sini! Namun ... di lain sisi, ibu meraih korek api yang sempat teronggok di meja kaca yang sangat mewah. Apa yang akan mereka lakukan di hadapanku? Jangan lakukan itu, Ayah! Jangan mengotori tangan cantikmu, Ibu! Tolong siapa pun yang ada di rumah ini, biarkan aku selamat dari pertumpahan darah!

Aku segera berlari ke ruang tamu untuk mencari bantuan tetangga yang mungkin dapat menyadarkan mereka. Belum jauh aku berlari, ayah menarik kaus hitamku dari belakang. Namun, akhirnya aku selamat.

Pintu depan! Aku seperti orang lupa ingatan kala mencari pintu depan. Ruang tamu! Aku butuh pintu ruang tamu agar bisa keluar dari rumah mengerikan ini.

Sayangnya saat aku dapat menemukan pintu, justru kakak pertamaku muncul seperti orang kesurupan memegang gunting dengan wajah dingin. Raut wajahnya memang selalu tanpa ekspresi, tapi kali ini lebih seram dibanding wajah yang biasa aku pahami. Mereka benar-benar berhasil menjebakku untuk kembali ke ruang tengah dengan lampu yang kembali padam ....

Mungkin ini saat yang sudah Tuhan tetapkan padaku. Jika memang itu akan terjadi, setidaknya aku berusaha bertahan melindungi diri. Dengan kekuatan penuh, tangan lihai ini berhasil menyentuh saklar itu.

Traakk!

 

"HAPPY BIRTHDAY, BUNGSU!"

 

Kata-kata yang tertera di kertas warna terlihat selaras dengan ucapan yang ayah dan ibu serta kakak pertamaku gemakan. Mereka menggoyangkan barang yang masih ada di genggaman tangan. Ya Tuhan, aku bahkan lupa jika hari ini bertepatan dengan hari ulang tahunku! Aku pun tidak menyimpan curiga pada ibu yang absen menjemputku di stadion kota. Padahal ia adalah wanita paling protektif yang kupunya. Ah ... lega rasanya ini semua kebohongan semata. Walau aku berhasil ditipu aktor kebanggaan keluarga.

Tiba-tiba kakak keduaku datang dari balik pintu dapur membawa sebuah kue tart berwarna merah muda. Di sana ada angka yang aku pijak sejauh usia yang kuhabiskan di dunia. Tepat pada umur tujuh belas tahun setiap orang akan kembali mengulang tanggal dan tahun di hari yang sama.

Inilah kisahku dalam tragedi Sabtu malam, karena tujuh belas tahun silam aku pernah dilahirkan. Mereka telah mengabaikanku pada suatu hal yang lebih menggoda. Kue tar yang belum sempat kutiup lilinnya sudah rusak tak terbentuk akibat ulah kakak sulungku yang rakus dan kelaparan. Bingkisan hasil pertandingan yang kubawa pulang bernasib sama seperti kue tar. Kelakuan mereka membuatku tak ragu untuk menyebut kata: GILA.


Devi Tasyaroh

Perkenalkan, nama saya Devi Tasyaroh. Lahir dan tinggal di Kabupaten Serang, Banten. Keseharian saya sebagai mahasiswa. Merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Anda dapat menghubungi saya melalui:

Facebook : Devi Tasyaroh

Email : devitasyaroh@gmail.com

No. Ponsel : 083812103072